Everyone loves what spring brings! Absolutely... fresh air, birds chirping, and of course the flowers! Tapi tidak pagi ini. Hujan lebat semalaman. Petir dan gledek unjuk gigi, salip menyalip, membuatku susah terlelap. Kedua kucingku tak mau kalah, mereka bertengkar entah memperebutkan apa. Mungkin juga ketakutan seperti tuannya. Seperti film horror!
Aku harus tidur. Beberapa janji menungguku esok hari
(Note : malam seperti ini, aku benar2 feeling so lame. Need some1 to comfort me )
Esok hari, hujan belum berhenti. Oh, Allah... Allahumma soyyiban nafi'a (3x) berikan lah hujan yang hermanfaat. Doaku tiada henti.
I am ready to "heel-ing the road". Tanpa ragu, kujinjing tasku menuju station kereta dekat rumah (which takes about 15 minutes walks). But hei... Damn! Betapa bodohnya aku, I left my umbrella!
Sebagai penyuka tantangan (tapi juga ceroboh), saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan. I am walking in the rain. Tapi saya tutup kepala saya dengan syal untuk melindungi kucuran air hujan yang Tentunya akan menjajah make up saya :)
"Hei, miss... why don't you bring an umbrella? "
Suara seseorang yang langsung berjalan mensejajariku, menjulurkan tangannya yang memegang payung sedikit keatas tubuhku. Aku- wajahku- terlindungi oleh payungnya
Aku ingin menjawab, aku lupa bawa payung, tapi urung, aku fikir itu jawaban terlalu membuka "aib"ku sendiri, pelupa.
Ingin juga lidahku berkata, aku tidak lihat ramalan cuaca hari ini, tapi kemudian otakku melarang, bukankah itu justru menggiringnya pada asumsi, kamu adalah wanita terceroboh yang pernah aku temui!
Pergulatan itu menyita beberapa waktu, meninggalkan diam.
''Where are you going?" Tanya nya lagi. Memecah sunyi.
'' work...'' Aku menimpali, tanpa basa-basi
''Hm... I know, I can see from your outfit. I mean u' ll take the bus or train?
''Em..."
"Hei, that's my bus, you can have the umbrella! " Dia berkata sambil setengah berteriak, dan tangannya seperti tangan preman yang hendak memperkosa seorang gadis, memaksa tanganku yang tadinya terkatup untuk terbuka, kemudian menyerahkan payungnya untukku tanpa sempat aku menolaknya, tanpa sempat berterimakasih. Dia menghilang. Aku melanjutkan langkahku menuju stasiun.
Di kereta, aku memandangi payung itu sambil berdo'a, semoga kami bertemu lagi, paling tidak untuk mengucapkan terimakasih dan tentunya mengembalikan payung ini.
(To be continued)
No comments:
Post a Comment