Namaku Rahmi
Aku dari kota Kediri
Umurku tigapuluh satu tahun lebih sehari
Statusku adalah BMI, seorang istri yang tak ternafkahi suami
Namun saya Iklas, karena saya bekerja untuk menafkahi Rasti
Sang buah hati
Majikanku orang jepang!
Badannya pendek, kekar, matanya sipit
Beliau bilang...
”Rahmi... Rajin2 ngumpilin duit”
”Why, Mister?”
Jawab Rahmi setangah bingung setengah gemetar
Negaramu Negara pertanian
Tapi beras cabe mngimpor dari negaraku
Negaramu negeri kepulauan 170 pulau
Tapi garam juga tak bermutu
Negaramu negara aGraris
Tapi swa sembada pangan miris
Sungguh ironis
Lihat keadaan negaramu
Negara katulistiwa
Gemah ripah lohjinawi
Tapi faktanya hanya rajin mengekspor TKI
Lihat penduduk negaramu
Kalau hujan...
Mengeluh karena rumahnya kebanjiran
Kalau panas...
Mengeluh rumahnya penuh bau peluh
Tuan, Stop!
Kenapa tuan jadi merendahkan negaraku?
apapun keadaan negaraku
Cintaku pada nya sekonyong koder
Tidak, Rahmi
Aku tidak bermaksud menghina
Aku ingin kamu rajin belajar
Rajin membenahi bakatmu
agar SDMI melambung tinggi
Agar kamu bisa memperbaiki citra negerimu
Agar derajat negerimu sama atau bahkan melebihi negeriku
SDMI?
Sepertinya saya pernah dengar bahasa itu
Sahabat Mandiri pernah membahasnya
Baik! Aku akan mencari tau, apakah gerangan SDMI itu!
Dihari libur yang dinanti
Rahmi bergegas menuju pelabuhan ferry
Minyibak kabut pagi
Menghalau mentari
Mengayunkan langkah, dengan yakin menuju lapangan viktori
Mata indahnya menyusuri lorong-lorong padat manusia
Bagai srigala jalang yang hendak mencari mangsa
Sayup dari kejauhan, Rahmi mendengar suara
”BMI jadi pengusaha... Pasti bisa! ”
Darah Rarmi berdesir
Kata-kata itu bak mntra penyejuk jiwa
Segumpal harapan mulai hadir
Rahmi dekati mereka
Rahmi ikut merapal mantra
“BMI jadi pengusaha, pasti bisa!”
No comments:
Post a Comment