MERDEKA PERLU SYARAT
Pagi- pagi, pukul sembilan belum genap. Hp Rahmi bergetar. Sms dari seberang, anak tunggalnya yang kelas 5 SD. ”MERDEKA!” Satu kata itu saja bunyinya. Tanpa embel-embel salam, atau akhiran emoticon cium seperti biasanya. Rahmi terlonjak, dan dia baru sadar, kalau hari ini adalah tujuh belas Agustus. Hari kemerdekaan bangsa Indonesia ke 68 (benar?)
Sekedar info, Rahmi adalah TKI asal Cilacap yang bekerja di Hongkong selama hampir 4tahun. Dia tidak ingat hari itu adalah hari kemerdekaan negaranya bukan karena jiwa nasionalis nya luntur tetapi karena pekerjaan nya sebagai pembantu rumah tangga di negeri beton ini sudah cukup menyita tenaga dan fikirannya. Jangankan hari kemerdekaan, hari ini hari apa pun, dia sering lupa. Yang dia ingat hanyalah tanggal 28. Entah kenapa, kalau sudah tanggal itu, dia otomatis ingat tanggalan. Dan dia akan menyegerakan menghadap majikannya jikalau sang Lopan terlambat membayar upah dia. Rahmi bilang, dia sudah menunaikan kewajiban dia sebaik mungkin, jadi dia pun tidak mau kalau hak nya diabaikan.
Tersadar hari ini hari apa, dia segera masuk ke toilet dan menekan nomer telepon anaknya. Mumpung sang Lopan masih tertidur.
”Halo... Nak, assalamu alaikum...”
”Wa ’alakum salam, Ibu... Merdeka!” Terdengar suara lantang dari seberang. Suara putranya.
”Kamu sedang apa, Ngger? Ojo dolanan petasan yo ...”
Alih-alih menjawab pertanyaan ibunya. Si Tole malah balik bertanya
”Bu, makna merdeka itu, menurut ibu apa? ”
Dia bertanya kepada sosok, yang sangat dia kagumi, yang menurutnya, setiap kata yang terucap dari ibunya adalah kebenaran. Dia tidak pernah membantah. Dimatanya, ibunya adalah wanita paling pintar yang selalu bisa menjawab pertanyaan apapun yang dia lontarkan, bapak nya saja kalah. Begitu pendapat anak lelaki itu.
”Merdeka? ” Rahmi sedikit berfikir, lalu melanjutkan dengan bahasa se-diplomatis mungkin
”Merdeka itu bukan bisa bangun siang. Tapi merdeka adalah kalian boleh bermimpi apa saja saat terjaga.”
”Merdeka itu bukan boleh tidak belajar. Tapi merdeka adalah boleh memilih mana yang ingin kalian pelajari”
”Merdeka itu bukan boleh menjawab apa saja. Tapi merdeka adalah boleh bertanya apa saja”
”Merdeka itu bukan boleh makan apa saja. Tapi merdeka adalah boleh mencoba meramu masakan apa saja”
” Merdeka itu bukan boleh bermain kapan saja. Tapi merdeka adalah boleh menciptakan permainan apa saja”
” Merdeka itu bukan boleh memetik tanaman apa saja.
Tapi merdeka adalah boleh menanam apa saja”
”Nak... Bila kamu perhatikan, MERDEKA itu selalu ada TAPI. Karena merdeka memang perlu syarat. Karena pada merdekamu selalu melekat tanggung jawabmu”
Jawab Rahmi mantap, berharap anaknya mengerti, apa makna tujuhbelasan. Karena yang terbayang di benaknya, anknya sama seperti anak anak lain yang menghamburkan uang untuk membeli petasan saat agustusan yang cenderung membahayakan diri sendiri.
”Bu... Tapi bagiku, merdeka itu saat aku bisa mencium tangan ibu sebelum aku berangkat sekolah dan saat aku pulang sekolah. Merdeka itu saat aku bisa merasakan ibu mencium keningku sebelum tidur sambil mengucap doa bersama. Merdeka itu saat ibu dan bapak yang mengambil rapor ku, bukan Pak Lek Sarman, tetangga kita, Bu!”
Sergah suara bocah lelaki dari seberang mencoba protes atas jawaban ibunya. Ini baru pertama kali dia lakukan. Rahmi gemetar mendengar jawaban itu. Ternyata putra kecilnya sudah pandai menyulam kata, sudah pandai mengungkapkan isi hatinya. Namun bukan Rahmi namanya jika dia tak memegang kendali.
”Nak... Merdeka menurut penjabaranmu itu pun benar. Namun seperti yang ibu katakan tadi. Ada TAPI nya. Tapi nya adalah... Kamu akan menikmati semua itu, saat waktunya tiba. Tak akan lam lagi Nak. Doakan ibh selalu. Agar segera “memerdekakan mu”
”Njeh, Bu”
Tak lama, pembicaraan antara ibu dan anak itupun berakhir. Rahmi mengusap buliran air matanya dengan lengan baju dinasnya yang mulai lusuh. Dia bulatka tekatnya, ini adalah kontrak kerjanya yang terakhir, dia ingin segera meberi anaknya kemerdekaan! Air mata itu terus mengalir tak tau diri.Airmata kerinduan seorang ibu
No comments:
Post a Comment